Saturday, October 23, 2010

Sepi tua yang ditinggalkan

Setelah malam kuasai dini hari, pagi pula berganti menciptakan embun putih berseri. Menurut aturan alam yang hakiki. Sentiasa berputar bumi mengelilingi sang matahari di atas paksi yang telah diciptakan Ilahi. Hari demi hari silih berganti. Putarannya, dapat dirasai bagi insani yang mengerti. Bertapa usia juga berkurang menghampiri hayat yang tidak diketahui.

Berada seperti di dalam kotak misteri. Dibalut dan dibungkus dengan rapi. Segalanya gelap tanpa ada sedikit cahaya yang mampu menerangi. Hanya gelap yang ada menemani. Membiarkan semua yang membebani berlalu tanpa ada kata pasti. Membuat seseorang yang penyepi terus dirundung sepi.

Keadaan yang sama dapat dirasai, ketika duduk manis di bangku di halaman rumah. Seorang tua sedang duduk sendiri sepertinya menanti datangnya sesuatu yang dapat menghilangkan rasa kesendirian. Warisnya adalah suatu kenyataan. Namun, tetap jadi halimunan, kerana tidak pernah lagi mereka berjumpa atau pun bersua.

Orang tua itu duduk bersandar sambil mendongak ke langit melihat titik-titik bintang. Sebelum itu, penglihatannya terpaku pada sebuah pokok kelapa, tumbuh meninggi di sebelah rumahnya. Melihat dengan tenang lambaian daun-daun pelepah pokok kelapa tersebut. Ditambah pula dengan terangnya cahaya bulan.

Semua apa yang di lihat orang tua tersebut mengundang rasa hiba di hati. Apakah dia masih dapat merasakan ketenangan seperti itu lagi, walau sepi di tinggalkan waris sendiri. Namun tetap rasa puas, dapat menikmati rasa sepi tanpa perlu terasa ingin menangis lagi. . .

Wednesday, October 20, 2010

Hati dibakar hujan

Ketika hati mengatakan iya. Tubuh mengatakan sebaliknya. Ketika guruh membuka suara, kilat ketakutan lalu mengeluarkan cahaya. Gemuruh hati menggentarkan jiwa. Jasad dibasahi oleh titik-titik hujan tidak semena-mena.

Basah bersama bumi ketika sedang terleka. Merasai dinginnya redup sang awan buat sementara. Terasa seperti anak-anak kecil sedang bersandiwara. Menari, melompat riang mandi di luar tanpa ada segan terasa.

Dahulu itu sungguh tidak terduga. Kembali mencari kini dimana kita berada. Sedewasa pun usia, tetap pernah menjadi anak-anak dahulu kala. Melalui jalur putih dimana ibu ayah sangat mengharapkannya.

Dapatkah jalan itu tetap ada ? Terbuka seluas-luasnya namun tetap tidak menjadi haluan seperti kemahuannya sang nafsu durjana. Menyelit ketika iman di paras bawah dada. Menarik tangan mencipta dosa.

Menunggu sesuatu yang dikatakan azab. Sama seperti menunggu hujan menitik menusuk tubuh yang sering alpa tentang kehidupan. . .



Termenung

Di mana hari itu tiba, sunyi diam suasana datang menimpa. Terhadap indahnya di saat diam sendirian. Di waktu itu, segala gambaran datang. Melayang-melayang di dalam fikiran. Seperti terbangnya sang lebah mencari sesuntik madu. 

Mengimbau semua permasalahan yang telah terjadi atau juga yang bakal terjadi. Indahnya rasa itu bukan terletak pada ingatan, tapi di saat sedang memikirkan apa yang ada dalam ingatan. 

Tersenyum tanpa ada rasa suka. Muka kelihatan kosong tanpa perasaan, tidak seimbang dengan senyuman yang tercipta. Sedikit demi sedikit hembusan kelelahan keluar perlahan dari balik ulas senyuman.

Mata sayu menambah kuat lagi rasa kesendirian. Membawa fikiran merewang tidak tahu mana tujuan. Tidak berkedip walau angin kuat menganggu tumpuan. Tetap juga hayati begitu 'bestnya' termenung merasai bila suatu hari nanti kita dapat apa yang kita inginkan