Saturday, October 31, 2009

Hancurkan hatiku

Waktu terasa semakin berlalu, tanpa ku sedari telah genap 4 tahun ku mengenali dia. Teringat ku saat bersamanya, ku bahagia. Saat ku berjauhan, ku sakit. Aku telah salah menilai apa yang ku rasakan selama ini. Untuk itu, telah tergerak hatiku tuk menulis tentang peristiwa yang telah tersimpan di kotak ingatan ku, walau ku tidak menginginkannya.

Tanggal 28 Oktober 09’, jam 01:20 tengah hari, sedang ku bersiap tuk ke tempat kerja, telah terlintas di pikiran ku tuk mengarang sebuah cerita. Waktu itu hujan sangat lebat, mujur tak sampai banjir. 10 minit setelah itu, aku berangkat kerja dalam kehujanan. Dalam perjalanan, ku hanya terpikirkan dia. Bagaimanakah kabarnya ? Adakah dia baik2 saja ? Ku berharap agar dia sentiasa bahagia dengan apa yang telah dia pilih tuk kehidupannya. Pulang ku dari kerja jam 12:30 mlm, jari jemari ku mulai menari di papan keyboard menaip memulaikan cerita di depan komputerku. Menceritakan semua kisah tentang khayalan dan mimpinya Ady.

Awal bulan September tanggal 2, ku tiba di depan rumahnya. Sendirian tiada yang menemani. Hanya doa ibu dan keluarga yang mengiringi. Tujuan ku hanya satu iaitu Ndry. Maaf, kerana tidak menyangka gurauanku membuatmu marah. Seharusnya tanggal satu ku tiba. Tapi tidak. Walaubagaimana pun, semua itu ada sebab ku sendiri. Aku belum bersedia sepenuhnya tuk berjumpa dengan dia. Aku tak mahu terlihat kurang sempurna di matanya. Walau ku menyedari diriku tidaklah sempurna, namun ku mahu dia lihat yang terbaik dari diriku. Hatiku telah ku cuci tuk memenangi hatinya. Telah ku hapus hitamku tuk meneranginya. Dengan tulus ku menyayanginya. Ku tak tau kenapa perasaan ini harus ku pupuk tuk dia ? Sabar ku menahan gelora jiwa saat berjauhan. Tabah ku jalani hidup tanpa sambungan napasku. Sesak hidupku tanpa dia. Namun suaranya telah memberi ku semangat tuk terus berjuang mencapai mimpiku.

Tapi itu semua tidak bertahan lama. Bagai ranting pohon di injak sang tupai, akhirnya rapuh jatuh ke tanah. Tak tau di mana salahnya. Ku bingung kenapa ini harus terjadi ? Apa salah ku ? Tak pernah sekali pun ku mahu sakiti hatinya. Apa lagi tuk mendustainya. Sekalem mana pun dia, ku mahu jawapan yang utuh dari dia. Akhirnya semua itu terjadi, dia telah mengatakan hal yang sejujurnya. Aku terima dengan hati terbuka. Mungkin ada yang lebih baik menunggu dia. Ku berdoa agar dia bahagia. Aku tinggalin cerita ini dengan hati yang suka tanpa dia merasa yang aku lagi berduka. Meninggalkan kesan sejarah dalam hidupku bahwa ada Ndry di dalamnya yang telah menyentuh sedikit hatiku tuk merasai perasaan yang tak pernah ku rasakn selama ini.

Cinta ! Ku tak tau ertinya. Tapi ku merasakan aman dan selesa saat bersama dengannya. Ku melihat ada sesuatu di matanya. Bahagia dengan sifatnya yang kurang femenim. Senang dengan sifat tenangnya. Suka dengan sifat keras hatinya yang telah membuatku harus bekerja keras tuk melembutkannya. Indahku di ayunan mimpinya. Dalam mimpi itu hanya ku sendiri. Menjalani kehidupan yang tak pernah terjadi. Hanya dia yang mengerti. Tapi, kenapa aku yang harus di sakiti ? Walau ku tau ku pasti akan merasakan itu, ku tetap mahu mencuba dan berusaha keras tuk memilikinya.

Jenuh ! tulah yang kusedari dari dia. Dari awal ku berasa ketakutan. Takut akan bayang2 sendiri, adakah aku atau bayang2 ku yang kan berjaya memasuki hatinya. Perasaan yang ku rasakan saat bersamanya telah membuatkan aku terlena sendiri. Tanpa ku peduli bahwa tu hanya sia2. Telah ku beri sepenuh kepercayaan ku padanya, dan menyakini bahwa dialah yang terbaik tuk diriku. Tapi itu semua telah mengajar kembali diriku. Aku terlalu mengikut perasaan yang tidak pasti dan akhirnya dimainkan oleh perasaan sendiri. Hati ku mulai mengerti bahwa cinta tidak boleh dipaksa. Aku tau itu, tp tidak ada upayaku tuk menahan perasaan ku tuk mengatakan sayang pada dia. Hati ku memaksa tuk berada di sampingnya. Aku jadi bingung harus bagaimana tuk mencuba tidak terlalu sayang padanya lagi.

Itu semua tidak semudah yang ku fikirkan. Akhirnya ku terima segala yang telah terjadi. Bagi dirinya, biarlah dia memilih tuk kebahagiannya. Bagi diriku, ku kan selalu mengenangnya dan menyimpan segala memori indah saat bersamanya di lubuk paling dalam di hatiku, yang tak pernah bisa terpadam tuk selamanya.

Friday, October 16, 2009

Kata-kata ku yang terakhir kali

Jangan menyerah sebelum berjuang
Menyusun langkah mengatur jiwa
Hanya tuk memenangi hati seseorang
Yang tak pernah menganggap ku ada

Umurnya masih menginginkan kebebasan
Mahunya ini, mahunya itu
Sang pengantri sedia menunggu
Hanya tinggal memilih yang satu 

Satu itu dalam seribu 
Mungkin dia mungkin aku
Segala jawapan pasrah di hatiku
Yang tersusun rapi di hatimu

Ku mengerti proses harus di lalui
Tapi itulah yang ku takuti
Jika keberadaanku yang dicemburui
Kau tetap ku yakini

Walau ku tau ku pasti di sakiti
Ku kan tetap menunggu sampai mati
Kaulah duniaku, hatiku, dan jiwaku
Yang tercipta buat diriku

Tapi andai saja kau berubah
Relaku tuk kebahagianmu
Walau luka ku agak parah
Ku kuatkan semangat tuk hidup tanpa dirimu

Semua terhenti tanpa ku akhiri
Walau kau tak tahu betapa hancurnya hati ini
Menahan perih luka sendiri
Hanya tuk membahagiakan sang putri yang bernama
ndRi . . .


by ; Ady