Wednesday, October 20, 2010

Hati dibakar hujan

Ketika hati mengatakan iya. Tubuh mengatakan sebaliknya. Ketika guruh membuka suara, kilat ketakutan lalu mengeluarkan cahaya. Gemuruh hati menggentarkan jiwa. Jasad dibasahi oleh titik-titik hujan tidak semena-mena.

Basah bersama bumi ketika sedang terleka. Merasai dinginnya redup sang awan buat sementara. Terasa seperti anak-anak kecil sedang bersandiwara. Menari, melompat riang mandi di luar tanpa ada segan terasa.

Dahulu itu sungguh tidak terduga. Kembali mencari kini dimana kita berada. Sedewasa pun usia, tetap pernah menjadi anak-anak dahulu kala. Melalui jalur putih dimana ibu ayah sangat mengharapkannya.

Dapatkah jalan itu tetap ada ? Terbuka seluas-luasnya namun tetap tidak menjadi haluan seperti kemahuannya sang nafsu durjana. Menyelit ketika iman di paras bawah dada. Menarik tangan mencipta dosa.

Menunggu sesuatu yang dikatakan azab. Sama seperti menunggu hujan menitik menusuk tubuh yang sering alpa tentang kehidupan. . .



1 comment: