Tuesday, August 23, 2011

Kau dari ceritaku

Pagi, 10.30am. Hujan yang separa berat menghempas bumi. Memberi hawa dingin tambahan memacu kelenaan sebilangan manusia dalam tidurnya, termasuk juga aku. Namun, aneh hari ini. Aku bangun awal. Seawal ayam bekokok. Kalau dikira-kira, cuma 1-2 jam sahaja mata ini diberi kesempatan untuk beristirehat.

Kasihan, terlalu suka akan mata panda. Ketika inilah, sewaktu hujan menggoreng ganas atap zink rumah. Aku duduk di kaki bangku sambil menatap telefon bimbit. Pagi-pagi lagi ada sms masuk. Terima kasih masih mengingat.

Sabarlah, sedikit demi sedikit hari itu kamu akan dapat melupakan ku dengan sepenuhnya. Seperti tidak pernah tahu atau memikirkan akan kewujudan aku. Seharusnya pasti terasa beban di hatimu akan terbebas, seperti bebasnya helang terbang kuasai langit.

Sebelum tafsiran "menjauh" barumu itu akan aku wujudkan, aku ada beberapa isi rahasia yang ingin aku tebarkan di sini. Rahasia yang kemas-kemas aku simpan di sisi hati, sejak setahun yang lalu.

Kamu satu-satunya, insan yang pertama memberitakan soal pertemanan yang baik. Saat bersamamu, baru aku mengenal erti berani berteman, apalagi berteman pada manusia yang bergelar perempuan. Nyaman. Itu kritikan ku terhadap apa yang kamu ingin tunjukkan padaku sewaktu dulu hingga sekarang.

Terbuka dan tertutup. Ciri-ciri hatimu, yang sangat membuat hati lelaki ingin dimanjai selalu olehmu. Manja bukan seperti bayi, tapi manja atas karenah ingin berteduh sama dalam menghadapi masalah yang kamu tempuh. Dan itu juga bukan semua lelaki bisa lakukan. Bagi mereka yang punya ketabahan yang luar biasa dapat membuka dan menutup hatimu ketika kamu mulai sedih atau gembira.

Oleh sebab itu aku tahu bagaimana kamu. Walau kamu katakan tiada 1 orang pun pernah memahami akan dirimu. Namun, aku lebih dahulu berusaha keras untuk mencuba memahami kamu melalui apa yang pernah kita jalani bersama. Walau perjalanan itu sekedar lalui gerbang maya yang tidak berkesudahan penghujungnya.

Kamu itu melucukan dalam menghuru-harakan suasana. Membuat semua jenis lelaki terperasan akan hal yang bahagia hingga mahu sampai ke tahap suka. Senda dan tawa nakal ditengahnya ada tersisip sedikit duka. Kedukaan yang kamu sembunyikan dari tawa. Itu yang membuatkan dirimu cepat terdewasa hadapi karenah dunia.

Santai dalam hadapi dilema. Sanggup musnahkan diri sendiri demi hadapi masalah yang tertanggung. Pernah aku siapkan sebuah nota buat kamu. Nota tentang gambaran kasar aku lihat tentang dirimu. Waktu itu aku mengerti kamu masih belajar dan jauh dari tangan ibu. Bermula sangat itu aku tahu apa yang seharusnya aku tahu mengenai dirimu.

Sampai detik ini, aku masih ada. Selalu masih ada sesuatu yang tidak dapat aku kikiskan cerita tentang kamu dalam satu hari. Semua itu ada dalam benak dan hati yang terkadang terang dan malap dihembus oleh angin datang dan pergi.

Darimu, aku telah terjumpa. Sebuah keselesaan yang nyata-nyata tidak pernah aku rasa ketika bersahabat dengan sahabat perempuan yang lain. Maksud semua ini mungkin terlalu kias. Aku telah berusaha melenturkan sedikit hati yang mula mengeras ini setelah datang sms pagi tadi.

Sebelum aku pergi, aku ingin kamu tahu. Selama ini kau yang aku tunggu. Kini penungguan aku bertambah lama lagi. Jadi dalam fikiran terdetik. Menjauhlah mencari ketenangan dahulu, nanti akan ditunggu lagi. Ataupun biarlah saja aku jadi penunggu buat selamanya. (Haha)


No comments: